Buku Hamil

Buku Hamil
Buku Cara Cepat Hamil

Saturday, April 3, 2010

Teknologi Hitung Tradisional

Hotel di Hong Kong - Sempoa konon sudah dikenal sejak tahun 2.400 sebelum Masehi di Babilonia dan Tiongkok. Alat itu digunakan dalam aritmatika untuk pengurangan, penjumlahan, perkalian, serta pembagian. Meski sudah mulai ditinggalkan, sempoa nyatanya masih banyak digunakan untuk berhitung.

Widi Wijayati, remaja yang masih duduk di bangku kelas VIII tersebut, pada Selasa (30/3) terlihat sedang menggunakan sempoa untuk berhitung. Meskipun terlihat kalkulator juga berada di dalam kocek bajunya. Remaja yang tinggal di Sungai Jawi, Pontianak ini, mulai dari sekolah dasar memang sudah diajari menggunakan sempoa oleh ayahnya yang juga pedagang.

"Sejak SD ayah sudah mengajari saya menggunakan sempoa. Meski awalnya hanya belajar iseng-iseng dan terkesan hanya main-mainan anak kecil, tetapi (ternyata) bisa membantu menghitung," tuturnya.

Sempoa berwarna merah kecoklatan tersebut, menurut Yati, sudah berumur 20 tahun. Sempoa itu milik ayahnya sejak kecil. Sempoa tersebut diberikan kepadanya untuk terus melestarikan keahlian menggunakan sempoa, khususnya generasi muda saat ini.

Sempoa tersebut terlihat masih dalam kondisi baik. Catnya pun masih terlihat mengkilat. Menurut Yati, sempoa tersebut setiap harinya dibersihkan dengan kain halus, agar tidak merusak catnya. Tetapi yang paling penting dari semuanya adalah hati-hati dalam penggunaannya.

San Liong, orangtua Yati, memang mengaku merasa prihatin dengan mulai hilangnya keahlian menggunakan sempoa pada generasi muda saat ini. Pengusaha alat-alat tulis tersebut mengatakan jika generasi muda saat ini lebih senang menggunakan kalkulator ketimbang sempoa. Banyak mereka yang lebih senang dengan hal-hal yang praktis, meski tidak ada yang salah dengan pilihan mereka.

"Anak muda sekarang jarang yang mempunyai keahlian menggunakan sempoa. Jika ada, bisa dihitung jumlahnya. Selain minat anak juga kurang, tenaga terampilnya juga saat ini sudah mulai tidak ada," tambahnya.

Menurut San Liong, keterampilan ini perlu dikembangkan, agar tidak punah. Untuk itu, perlu adanya perlombaan-perlombaan, pembinaan dan pendidikan, mulai dari tingkat anak-anak (sekolah dasar), untuk membiasakan hal tersebut.

"Pada dasarnya keterampilan ini baik. Tetapi memang saat ini sudah mulai ditinggalkan. Belajarnya terbilang sulit untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih sempurna. Tetapi kalau hanya untuk penjumlahan dan pengalian, akan lebih mudah mempelajarinya. Sebagai tahap dasar, biasanya dengan melakukan penjumlahan," timpalnya.

Maka dari itu, salah satu usaha agar keterampilan tersebut tidak punah, San Liong mengajarkannya kepada anak-anaknya mulai sejak kecil. Meskipun sampai sekarang pun mereka belum sempurna. Sembari melakukan itu, ia pun berharap ada acara-acara resmi yang mengakomodir potensi anak-anak yang pandai menggunakan sempoa

No comments:

Post a Comment